Ya, tentu saja ajaib. Bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu perbuatan (menikah) yang kita tidak tahu (paham) maksud dan tujuannya? Ketika pertanyaan serupa blogger tanyakan kepada kawan-kawan Vietnam yang telah menikah, jawaban mereka beragam. Ada yang mengatakan bahwa mereka ‘menikah’ (saya beri tanda petik dan saya harap anda paham maksudnya) karena tradisi. Maksudnya, orangtua-orangtua mereka juga melakukannya. Ada lagi yang mengatakan bahwa mereka saling mencintai. Ada pula yang mengatakan bahwa itu untuk mendapatkan keturunan. Namun, ada pula, yang berpendapat bahwa daripada berbuat zinah (padahal kawin yang tidak sesuai dengan syariahpun itu samimawon dengan zinah, bukan?).
Doc. pribadi/Menghadiri pernikahan Dzung
Oleh karenanya tidak mengherankan apabila landasannya saja tidak begitu kuat, alias rapuh, bagaimana mungkin dapat membangun mahligai rumahtangga yang kokoh? Barangkali itu juga sering kita saksikan ketika menonton acara-acara infotainment di negeri kita. Rata-rata jawaban dari para artis kita yang sudah, sedang, maupun akan menikah hampir sama dengan jawaban kawan-kawan blogger tadi.
Doc. pribadi/Menghadiri pernikahan Chau, anaknya Chi Phuong
Lalu, kalau bukan seperti jawaban-jawaban di atas yang telah disebutkan tadi atas suatu pernikahan, apa dong? Menurut ustad yang memberikan khutbah nikah tadi, bahwa tujuan dari sebuah pernikahan adalah untuk mendapatkan kebahagiaan dan ridla Allah subhanahu wata’ala. Nah, kebahagian dan ridla Allah subhanahu wata’ala itu tidak akan pernah berakhir dan harus terus diupayakan, hingga akhir hayat memisahkan kita dengan pasangan yang kita cintai.
Berikut ada sedikit cerita tentang rahasia pernikahan Rasulullah Muhammad salallaahu alaihi wassalam yang saya kutip dari Republika online. [rpi]
''Wahai bibi, tolong ceritakan kepadaku bagaimana kalian membina rumah tangga?'' Urwah, kemenakan Aisyah RA melontarkan pertanyaan, saat dia menemani hari-hari Aisyah yang tengah berkabung atas kepergian Rasulullah SAW ke pangkuan Sang Khaliq. Sambil tersenyum getir, Aisyah mencoba mengulang kembali kenangan indah yang paling berkesan saat ia masih menjadi istri baginda Rasul. ''Demi Allah wahai kemenakanku. Sungguh kami pernah melihat bulan sabit berganti di langit sampai tiga kali berturut-turut dalam dua bulan. Selama itu tidak pernah tungku api menyala di seluruh rumah istri Rasulullah SAW.''
Aisyah RA masih tetap tersenyum meski kalimat itu telah terhenti. Mendengarnya, Urwah kaget dan berkata, ''Wahai bibi, bagaimana kalian bisa bertahan hidup bila sedemikian?''
Aisyah lalu menjawab, ''Dengan dua benda hitam; yaitu kurma dan air yang tidak jernih. Namun, terkadang beberapa tetangga Rasulullah SAW dari golongan Anshor yang memiliki domba suka mengirimkan susu kepada kami untuk diminum.'' (Muttafaq Alaihi).
Subhanallah! Itulah kebahagiaan keluarga bumi yang berhati langit. Ketiadaan materi tidak membuat mereka panik, berespons keras atau meminta cerai dari Rasulullah SAW. Benar, episode hidup keluarga ini telah dipertontonkan Allah SWT kepada umat dan kita semua, bahwa pilihan hidup bahagia meski tak berlandaskan materi dapat dijalankan dengan damai.
Kebersahajaan hidup Rasulullah SAW juga tergambar dalam sebuah hadis riwayat Anas RA; Dari Anas Ra, ''Nabi SAW menggadaikan baju besinya dengan sejumlah tepung gandum. Karenanya, aku pun datang kepada Nabi SAW dengan membawa roti gandum dan minyak sayur. Sungguh aku pernah mendengar Beliau bersabda, 'Keluarga Muhammad tidak pernah memiliki satu sha gandum baik pada pagi maupun sore'.'' (HR Bukhari) Dalam sebuah ayat Allah berfirman, ''Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.'' (QS Aththalaaq [65]: 3) Keluarga Muhammad SAW tidak pernah memiliki nafkah yang cukup untuk menghidupi hari-hari mereka. Akan tetapi, kehidupan mereka berjalan mulia dan keharmonisan pun masih tetap mereka miliki. Jika mereka bisa hidup bahagia tanpa keberadaan nafkah, lalu bagaimana dengan kita? (Ust Bobby Herwibowo )
