Wednesday, January 09, 2008

Silaturrahim dengan Teman ex-Smanda di Malang

Ilustrasi: Silaturrahim di rumah Hj. Wiwik





Ilustrasi: Silaturrahim ... sehabis makan tahu campur dan angsle di depan Telkom, Malang. Tahu campurnya habis berapa piring? Hehehe ...


Silaturrahim adalah anugerah. Betapa tidak, banyak orang yang ingin bertemu (silaturrahim) dengan keluarga, orangtua, teman, atau kenalan dan kerabat lainnya tetapi tidak berkesempatan melakukannya karena satu dan lain hal. Oleh karenanya, begitu kesempatan itu ada, maka saya ingin melakukannya segera. Tidak perlu menunda-nundanya. Apalagi, mencari-cari alasan untuk menggagalkannya.

Adalah sebuah anugerah terbesar ketika mudik ke Malang, kota dimana saya dibesarkan dan menjalani hampir semua masa menimba ilmu dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi, di bulan Agustus 2005 berkesempatan bertemu kembali (reuni) dengan teman-teman SMA. Subhanallah! Lebih dari 22 tahun tidak bertemu, kami kembali dipertemukan. Bukankah itu sebuah anugerah dari Allah SWT?

Pertemuan itu digagas oleh Wiwien, salah satu 'aktivis' sekaligus 'seksi sibuk' alumni SMA Negeri 2 Malang (smanda). Kebetulan saat mudik ke Malang itu saya mendapatkan nomor HP-nya dari salah seorang teman ex-smanda dari 'milis smanda'.

Senang dan bahagia sudah tentu. Malam itu kami bagai melakukan 'napak-tilas' kuliner di Kota Malang dengan mengunjungi beberapa tempat yang menyajikan makanan khas Jawa Timur (baca: Malang), seperti: Tahu Gunting (petis) Kotalama, Tahu Campur, dan Angsle 'Telkom'.

Kurang puas dengan silaturrahim yang begitu singkat saat itu, karena biasanya keluarga kami melakukan mudik saat libur musim panas di Hanoi-Vietnam, maka setahun kemudian (2006) ketika mudik lagi ke Malang kami silaturrahim lagi dengan teman-teman ex-smanda. Kali ini kami melakukannya di salah satu warung makan seorang alumni (Dias). Sayang, ketika itu kami tidak kebagian makanan yang disajikan oleh 'Waroeng-Ku', karena kedatangan kami ke warung itu sudah malam untuk ukuran orang Malang. Tak apalah, silaturrahimnya itu sendiri sudah sebuah anugerah. Toh, saat itu kami bisa menikmati 'nasgor' khas Malang. Nah, makan nasgor (lagi) di Malang (pula gitu lhoh), bukankah suatu anugerah?

Ilustrasi: Silaturrahim di "Waroeng-Ku" (warungnya Dias, lho ... moga tambah laris yah)

2 comments:

Den Mas Use said...

Hikmah Silaturahim (http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=310989&kat_id=14)

Oleh : Achmad Marzoeki

''Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezeki dan dipanjangkan usianya hendaklah ia senantiasa menjaga silaturahim.'' (HR Muslim, dari Anas bin Malik RA).

Tak ada yang mampu menghindar dari masalah selama menjalani kehidupan di dunia. Bahkan, tantangan hidup dari hari ke hari terasa kian kompleks. Rasul dan orang-orang beriman di masa lalu pun pernah hampir putus asa ketika menerima cobaan yang demikian berat dari Allah SWT.

Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 214 disebutkan, ''Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan dengan bermacam-macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ''Bilakah datangnya pertolongan Allah?''

Mengapa ada yang mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dan ada yang tidak? Kuncinya sebenarnya adalah silaturahim. Tentu, tak hanya sekadar mendatangi saudara, kerabat, atau kenalan dengan pertemuan yang penuh basa-basi. Namun, pertemuan itu untuk mengukuhkan persaudaraan dan untuk selalu berbagi pengalaman; bercerita, dan mendengarkan.

Dengan berbagi, kita menjadi tahu betapapun beratnya masalah yang kita hadapi, sesungguhnya kita tidaklah sendiri. Orang lain juga menghadapi masalah yang sama, bahkan mungkin lebih berat dengan bentuk yang berbeda. Jika sudah demikian, kita akan bisa lebih tegar menghadapi masalah, dan saling menguatkan. Semangat hidup pun tumbuh kembali.

Tidak keliru bila dalam hadis di atas Rasulullah SAW sangat menganjurkan silaturahim, yang hikmahnya antara lain akan membuat kita jadi panjang umur. Kalau saja tidak rajin silaturahim, dengan sedikit masalah saja akan membuat kita lekas putus asa. Hidup tanpa harapan atau malah mengakhiri hidup secara tragis.

Namun dengan memperbanyak silaturahim, masalah apa pun yang menimpa, bisa kita hadapi dengan ketegaran. Kita bisa saling mengingatkan untuk tidak berputus asa, sebagaimana bunyi akhir ayat 214 surat Al-Baqarah, ''.... Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.'' Wallahu a'lam bish-shawab.

Unknown said...

Assalamualikum...

salam kenal mas,mo tanya mas nya alumni smunda angk berapa ya?, saya kesulitan nyari teman teman angkatan '88.
barangkali bisa bantu saya.

thanks.
Dama '88
dama.mulia@yahoo.com