Friday, January 25, 2008

Silaturrahim - Anugerah Tambah Rezeki, Tambah Umur

Tambah Rezeki dan Umur


Laporan: Alirman Hamzah

Setiap orang tentu sangat menginginkan rezekinya bertambah dan umurnya diperpanjang. Persoalannya, bagaimana cara tambah umur dan rezeki itu? Kuncinya adalah memperkuat silaturrahim. Sabda Rasulullah SAW, ''Siapa yang suka rezekinya dilapangkan dan usianya dipanjangkan, hendaklah ia menyambung kerabatnya (silaturrahim).'' (HR Bukhari).



Ilustrasi: Silaturrahim di Azzisyiah (Jan-2006)

*************

Silaturrahim berasal dari kata shillat, berarti hubungan atau menyambung, dan al-rahim yang berarti 'mengasihi, menaruh kasihan'.

Dapat juga berarti, peranakan, rahim ibu, tali persaudaraan. Secara keseluruhan pengertiannya adalah usaha menyambung atau menjalin kasih sayang dengan sanak saudara, kerabat, atau sahabat. Dalam sehari-hari, silaturrahim dimaknai sebagai saling mengunjungi antara sanak saudara dan sahabat. Namun, substansinya tentulah tidak sekadar kunjung-mengunjungi, tidak sekadar kontak via udara atau alat komunikasi lainnya. Silaturrahim adalah menumbuhkan persaudaraan yang mendalam, sehingga saling mengetahui, memahami, merasakan, tolong-menolong, berbuat baik, menyayangi, dan mengasihi sanak saudara, kerabat atau sahabatnya.

Pemahaman melapangkan atau menambah rezeki dalam hadis di atas tentulah tidak dipahami lafziah, artinya Tuhan tidak akan menurunkan rezeki berupa uang, emas, atau nikmat lainnya secara fisik. Akan tetapi, konotasinya maknawi atau majazi. Dalam hal ini, sebagai buah dari silaturrahim tersebut, Allah akan menumbuhkan rasa tenteram dan kedamaian batin yang dapat menyebabkan hati terbuka, inspirasi tumbuh, dan motivasi kerja kuat, produktivitas kerja berlipat ganda secara kuantitas dan kualitas, sehingga menghasilkan rezeki yang bertambah-tambah atau berlipat ganda. Sedangkan pengertian bertambah panjang umur dalam hadis tersebut dapat dipahami dalam dua hal.

Pertama, dalam pengertian lafzi, yaitu betul-betul umur orang yang melakukan silaturrahim itu yang dipanjangkan Allah, yaitu umur yang merupakan takdir muqayyad (yang diikat) yang terdapat pada lembaran malaikat yang masih bisa dihapus dan ditetapkan. Hal ini dimungkinkan, karena orang yang rajin melakukan silaturrahim, hatinya senang, jiwanya damai, pikirannya tidak susah dan gelisah sehingga badannya sehat dan umurnya panjang. Jadi, ia memperoleh salah satu sunatullah untuk panjang umur.

Kedua, dalam pengertian maknawi atau majazi, yaitu Allah SWT memberkati orang-orang yang melakukan silaturrahim dengan ketenangan jiwa, kedamaian hati, dan ketenteraman pikiran, seperti yang dijelaskan di atas.


Ilustrasi: Silaturrahim di Elaf Kindah (Jan-2006)

**************


Dengan kondisi rohani yang demikian, ia akan bekerja sungguh-sungguh dan penuh vitalitas. Ia akan terhindar dari pemakaian waktu yang sia-sia, sehingga produk kerjanya berkualitas tinggi dan mendatangkan rezeki yang bertambah. Di sisi lain produktivitas yang tinggi atau kebaikan-kebaikannya dalam memelihara silaturrahim akan lama dikenang dan dicatat orang, sehingga walaupun jasadnya telah hancur dikandung tanah, namanya akan tetap diingat, dan tak mudah pudar ditelan masa. Inilah yang secara majazi dimaksud dengan umur panjang.

Sumber: Republika, 18 Mei 2004

Thursday, January 10, 2008

Silaturrahim dengan Teman ex-Smanda di 'Van de Glank'

Ilustrasi: Silaturrahim Keluarga ceria. Keep smile ya ...!


Silaturrahim adalah anugerah. Betapa tidak, banyak orang yang ingin bertemu (silaturrahim) … entah dengan keluarga, orangtua, teman, atau kenalan dan kerabat lainnya tetapi tidak berkesempatan melakukannya karena satu dan lain hal. Oleh karenanya, begitu kesempatan itu ada, maka saya ingin melakukannya segera. Tidak perlu menunda-nundanya. Apalagi, mencari-cari alasan untuk 'menggagalkan'nya.

Adalah sebuah anugerah terbesar ketika mudik ke Jakarta (28 Desember 2007 – 7 Januari 2008) untuk menemui keluarga, Rennie, Randy dan Rania, Mamah serta adik-adik sekeluarga di Jakarta saya berkesempatan bersilaturrahim kembali (reuni) dengan teman-teman SMA, alumni SMA Negeri 2 Malang (smanda) yang berdomisili di Jadebotabek.

Silaturrahim kali ini digagas oleh Hj. Wiwik dan Erny, yang didukung oleh Hj. Henny. Awalnya, silaturrahim itu merupakan salah satu topic yang hangat di milis yang saya ikuti, yaitu ‘milis smanda’ yang dimoderatori oleh Suharso Hermawan. Seingat saya, topic silaturrahim di Van de Glank (demikian Gisho, panggilan akrab Suharso Hermawan biasa menyebut Pandegalang) sudah sering kami bahas berkali-kali di milis, tetapi baru kali ini dapat ‘kejadian’.

Subhanallah! Sungguh suatu anugerah ketika akhirnya kami dapat bersilaturrahim di Van de Glank, di salah satu vilanya Hj. Henny (saya sebut saja salah satu vila, siapa tahu banyak vila lain yang dimilikinya dan belum saya ketahui) dari 5 – 6 Januari 2008. Thanks to Hj. Henny atas kesediannya menjadi ‘host’ silaturrahim kali ini.

Memancing. Apa saja kegiatan yang dilakukan selama dua hari-semalam di Van de Glank itu? Oh … sungguh indah! Kami ‘check-in’ ketika adzan Sholat Isya berkumandang. Setelah sholat dan santap malam (dinner) kami berkumpul di ruang tengah dari rumah yang asri itu untuk saling memperkenalkan anggota keluarga masing-masing. Kemudian, menyusul ‘performance’ dari masing-masing keluarga. Om Gisho memainkan organ, lalu diikuti oleh Randy, menyusul ‘dance’ oleh Rania, juga nyanyi oleh grup vocal Angie, Dana dan kedua adiknya (wah maaf …. om lupa nama-namanya nih).

Kemudian acara dilanjutkan dengan permainan (game) yang dipandu oleh Randy, sebut saja permainan ‘Jeruk Battle’. Jangan dibayangkan bahwa game itu seperti saling lempar jeruk, tetapi memperebutkan jeruk yang diletakkan di tengah-tengah arena (menggunakan karpet/permadani), dimana ada dua tim yang saling berhadapan (masing-masing anggota tim mengetahui nomor-nomor yang harus selalu mereka ingat dan berdiri di luar batas karpet) untuk adu cepat mengambil jeruk tadi setelah ada aba-aba (berupa panggilan nomor secara acak oleh seorang juri).


Malam itu acara masih diteruskan, meskipun acara 'performance' telah usai. Ada yang hunting durian (duren), main kartu (UNO), karaoke, dan bercerita (mendongeng) oleh Om Gisho. Tak ayal, anak-anak malam itu 'melekan' hingga dini hari jam 3 pagi. Olala!

Paginya, acara lebih seru lagi. Setelah menyantap sup ala suki, beberapa dari kami memancing di kolam ikan, di halaman vila itu. Om Yanuar berhasil mendapatkan ikan yang cukup besar (dibawa pulang buat oleh-oleh nyonyah ngga om?). Lalu, beberapa dari kami asyik membakar ikan. Tapi, itu bukan ikan hasil pancingan kami lho. Itu dibeli Hj. Henny di pasar. Hehehe....


[cerita masih berlanjut …. Kapan2 deh nulisnya, hehehe …]


Ilustrasi: Alamak ... enak nian ikan bakar, sambal pete,
tempe bacem, ayam goreng dan sayur asemnya nih. Subhanallah!

Ilustrasi: Tim 'ikan bakar' in action.
Hm ... bau ikan bakarnya saja mak nyus!

Ilustrasi: Anak-anak ceria 'beraksi' di dekat sawah,
persis di seberang vilanya Tante Hj. Henny, Pandeglang




Wednesday, January 09, 2008

Silaturrahim dengan Teman ex-FEUB JB83

Ilustrasi: Bersekutu menambah mutu. Hehehe ... kayak slogannya Malaysia aja!


Ilustrasi: ''Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menghubungkan tali silaturahim (kekerabatan).'' (HR Bukhari).

Ilustrasi: Keep smile man! Wah ... masih pada ganteng-ganteng nih. Hehehe ... muji-muji sendiri

Silaturrahim adalah anugerah. Betapa tidak, banyak orang yang ingin bertemu (silaturrahim) dengan keluarga, orangtua, teman, atau kenalan dan kerabat lainnya tetapi tidak berkesempatan melakukannya karena satu dan lain hal. Oleh karenanya, begitu kesempatan itu ada, maka saya ingin melakukannya segera. Tidak perlu menunda-nundanya. Apalagi, mencari-cari alasan untuk menggagalkannya.


Adalah sebuah anugerah terbesar ketika mudik ke Malang, kota dimana saya dibesarkan dan menjalani hampir semua masa menimba ilmu dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi, di bulan Juli 2006 berkesempatan bertemu kembali (reuni) dengan teman-teman ex-Kelas Ganjil-B-1983, Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya, Malang. Subhanallah! Lebih dari 17 tahun kami tidak saling bertemu, kemudian kembali dipertemukan. Bukankah itu sebuah anugerah dari Allah SWT? Pertemuan itu digagas oleh Rudy Haryadi, Tutik Aswiyati, Petrus Indarto yang merupakan nama-nama 'aktivis' sekaligus 'seksi sibuk' alumni FEUB-JB83.


Kebetulan saat libur musim panas di Hanoi-Vietnam waktu itu, Juli 2006 kami sekeluarga mudik ke Malang. Kami mengambil rute Jakarta-Surabaya, kemudian langsung menuju kawasan wisata Tretes, Prigen, Pasuruan.


Silaturrahim itu diadakan di Tretes View Hotel, Prigen. Kami menginap semalam disana karena berbagai acara telah disiapkan secara 'marathon' mulai dari sore hari hingga siang keesokan harinya. Dihadiri oleh sekitar dua puluhan alumni, yang kalau dijumlahkan dengan keluarga atau rombongan, maka yang hadir sekitar 70-an orang. Senang dan bahagia, sudah pasti. Apalagi, saat itu kedua ortu (tercinta) saya berkenan menghadirinya. Makanya saya sangat antusias untuk kembali melakukan silaturrahim bersama teman-teman ex-FEUB JB83. Kapan lagi dong?

Silaturrahim dengan Teman ex-Smanda di Malang

Ilustrasi: Silaturrahim di rumah Hj. Wiwik





Ilustrasi: Silaturrahim ... sehabis makan tahu campur dan angsle di depan Telkom, Malang. Tahu campurnya habis berapa piring? Hehehe ...


Silaturrahim adalah anugerah. Betapa tidak, banyak orang yang ingin bertemu (silaturrahim) dengan keluarga, orangtua, teman, atau kenalan dan kerabat lainnya tetapi tidak berkesempatan melakukannya karena satu dan lain hal. Oleh karenanya, begitu kesempatan itu ada, maka saya ingin melakukannya segera. Tidak perlu menunda-nundanya. Apalagi, mencari-cari alasan untuk menggagalkannya.

Adalah sebuah anugerah terbesar ketika mudik ke Malang, kota dimana saya dibesarkan dan menjalani hampir semua masa menimba ilmu dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi, di bulan Agustus 2005 berkesempatan bertemu kembali (reuni) dengan teman-teman SMA. Subhanallah! Lebih dari 22 tahun tidak bertemu, kami kembali dipertemukan. Bukankah itu sebuah anugerah dari Allah SWT?

Pertemuan itu digagas oleh Wiwien, salah satu 'aktivis' sekaligus 'seksi sibuk' alumni SMA Negeri 2 Malang (smanda). Kebetulan saat mudik ke Malang itu saya mendapatkan nomor HP-nya dari salah seorang teman ex-smanda dari 'milis smanda'.

Senang dan bahagia sudah tentu. Malam itu kami bagai melakukan 'napak-tilas' kuliner di Kota Malang dengan mengunjungi beberapa tempat yang menyajikan makanan khas Jawa Timur (baca: Malang), seperti: Tahu Gunting (petis) Kotalama, Tahu Campur, dan Angsle 'Telkom'.

Kurang puas dengan silaturrahim yang begitu singkat saat itu, karena biasanya keluarga kami melakukan mudik saat libur musim panas di Hanoi-Vietnam, maka setahun kemudian (2006) ketika mudik lagi ke Malang kami silaturrahim lagi dengan teman-teman ex-smanda. Kali ini kami melakukannya di salah satu warung makan seorang alumni (Dias). Sayang, ketika itu kami tidak kebagian makanan yang disajikan oleh 'Waroeng-Ku', karena kedatangan kami ke warung itu sudah malam untuk ukuran orang Malang. Tak apalah, silaturrahimnya itu sendiri sudah sebuah anugerah. Toh, saat itu kami bisa menikmati 'nasgor' khas Malang. Nah, makan nasgor (lagi) di Malang (pula gitu lhoh), bukankah suatu anugerah?

Ilustrasi: Silaturrahim di "Waroeng-Ku" (warungnya Dias, lho ... moga tambah laris yah)

Kunjungan Ayah-Bunda ke Vietnam


Ilustrasi: Ayah-Bunda ketika berkunjung ke Hanoi




Adalah suatu anugerah tersendiri yang patut disyukuri, ketika Ayah-Bunda berkenan berkunjung ke Hanoi. Terimakasih Ayah-Bunda atas perkenan mengunjungi ananda di tanah rantau. Meskipun kunjungan itu hanya singkat saja, selama 10 hari, tetapi hari-hari yang telah kita lalui bersama di negeri orang itu sangatlah berkesan.

Lebih berkesan dan serasa sangat istimewa, karena kunjungan Ayah-Bunda kala itu bertepatan dengan saat-saat sebelum hingga sesudah Idul Fitri 1428H. Kenapa begitu istimewa? Karena sudah bertahun-tahun kami jarang melewatkan waktu berhari raya (lebaran) bersama kedua ortu karena kami jarang berkesempatan mudik ketika lebaran. Sungguh itu suatu anugerah yang terindah ketika Ayah-Bunda bersama kami merayakan lebaran 1428H di Kota Hanoi.