Tuesday, July 29, 2008

Memaknai Isra Dan Mikraj

:: Memeringati Isra' Mi'raj 1429H ::


Isra Mikraj merupakan peristiwa paling agung yang pernah dialami Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Ini adalah wisata rohani sebagai jamuan istimewa dari Allah SWT untuk menghibur dan menguatkan hatinya setelah ditinggalkan orang-orang yang paling ia cintai, istri (Siti Khadijah) dan pamannya (Abu Thalib).

Bagi Nabi, Isra tidak sekadar perjalanan malam hari dari Masjid al-Haram di Makkah al-Mukarramah menuju Masjid al-Aqsha di Jerusalem. Lebih dari itu, maknanya, membuka mata, hati, dan cakrawala dunia betapa luas dan besarnya ciptaan serta amanat yang diberikan Tuhan kepadanya sebagai nabi terakhir, penutup, dan penyempurna risalah Islam hingga akhir zaman nanti. Dengan begitu, Isra berarti memuat tamsil dan replika kehidupan umat manusia ke depan yang harus diantisipasi dan diprogram dengan baik dan benar.

Sementara itu, Mikraj lebih bertendensi ritual dan spiritual. Yaitu perjalanan vertikal transendental dari Qubbah As-Sakhrah menuju ke Sidrat al-Muntaha, lalu kemudian kembali ke bumi untuk kedua kalinya. Dalam Mikraj inilah Nabi menerima perintah salat dan yang lebih penting, ia dapat berdialog dan berkomunikasi dengan Tuhan secara langsung. Ini mengandung makna bahwa tingkat pengalaman spiritual seseorang itu diukur sejauh mana ia dapat berjumpa dan berdialog dengan Tuhannya. Karena itu, dalam ritual salat, orang dituntut untuk lebih khusyuk dan konsentrasi.

Jika ditarik garis lurus dari peristiwa fenomenal ini, Isra dan Mikraj, kita dapat menemukan pesan spiritual dan sosial di dalamnya. Sebuah pesan yang tidak semata-mata berorientasi pada urusan ketuhanan belaka, tapi juga kemanusiaan seperti keadilan, kesetaraan, keadaban, kejujuran, cinta, dan kasih sayang.

Relevansinya bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat seperti sekarang ini. Pertama; para pejabat pemerintah, elite politik, konglomerat, bangsawan, dan tokoh masyarakat, hendaknya melakukan isra. Yaitu kontemplasi dan perenungan pada malam hari atas kondisi riil rakyat yang tengah dihadapi.

Mereka harus membuka mata bagaimana sengsaranya orang yang hidup dalam jurang kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, dan busung lapar. Belum lagi bertambahnya jumlah pengangguran yang kian meningkat, tindak kriminal yang terus merajalela, dan setumpuk problem sosial lainnya yang harus dicarikan solusinya. Bagaimanapun juga problem sosial yang tengah dihadapi bangsa kita ini adalah bagian dari tanggung jawab mereka.

Dan kedua, mereka juga hendaknya melakukan mikraj. Yaitu meningkatkan ibadah formal seperti salat, puasa, dan zakat agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan begitu, mereka tidak lagi melakukan korupsi, merampas hak orang, dan tindak keji lainnya yang dapat merugikan orang lain.

Selama lebih dari 14 abad hingga kini, umat Islam lebih disibukkan soal apakah Isra Mikraj itu riil atau tidak. Apakah hanya khayalan Nabi Muhammad dan tipu muslihatnya saja atau memang benar-benar terjadi dan merupakan perintah dari Allah SWT?

Yang penting bagi kita, Isra Mikraj mengandung makna yang mendalam (spiritual dan sosial) dan merupakan gambaran atas realitas yang akan dihadapi umat manusia di dunia dan di akhirat nanti. Maka, yang kita perlukan ke depan adalah kesinambungan dan keseimbangan antara langit dan bumi, antara ketuhanan dan kemanusiaan, atau antara spiritual dan sosial.

Perlu diketahui, jika konsep dunia-akhirat (Isra-Mikraj) tidak dimaknai dengan baik sesuai dengan porsi dan proporsi masing-masing, akan terjadi krisis multidimensi di seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan beragama seperti dialami Indonesia saat ini. Dalam tataran kebangsaan dan kenegaraan, orang akan lebih mudah untuk melakukan korupsi, kejahatan, penipuan, dan menindas bangsanya sendiri. Sementara itu, pada tataran keagamaan, orang akan meninggalkan norma-norma agama, dan bahkan berani untuk melecehkan perintah agama.

Semoga dari refleksi Isra Mikraj tahun ini, 27 Rajab 1429 H, kita bisa memetik hikmah dan makna yang terkandung di dalamnya serta dapat diwujudkan dalam hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Atas segala jasanya, marilah kita haturkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW.


Oleh Mohamad Asrori Mulky
Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

[Source: http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MTk2Mzg=]

Saturday, June 14, 2008

Bantulah Pembangunan Masjid Jamiul Niakmah di Vietnam

Gambar maket dari Masjid Jamiul Niakmah, Ninh Thuan, Vietnam




Progress pembangunan masjid Jamiul Niakmah, foto diambil pada tanggal 26 Mei 2008 [dok.Imanudin]


Usai sholat Jumat, 6 Juni 2008, di Masjid An Noor, Jl. Hang Luoc No. 12, Hanoi, saya bertemu dengan Haji Abu Daud (Haji Abu Dawous atau nama Vietnam 'Nao Du'), pimpinan proyek pembangunan masjid Jamiul Niakmah.

Adalah Imanudin yang memperkenalkan saya dengan Haji Dawous. Imanudin bertemu dengan Haji Dawous ketika sedang mencari rempah-rempah di Provinsi Ninh Thuan, di Vietnam bagian tengah. Dari perkenalan itu saya mengetahui kalau Haji Dawous sedang mencari donatur untuk pembangunan Masjid Jamiul Niakmah, yang terletak di Desa Nho Lam, Phuoc Nam Commune, Ninh Phuoc District, Ninh Thuan Province.



Bersama Haji Abu Dawous di Masjid An-Noor, Hanoi; dari kiri-kanan: Imanudin, Haji Abu Dawous, R. Pandji Ibnul Djausin, Ahmad Ramadhan [dok.imanudin]

Oleh karena itu, melalui site ini, saya ingin mengajak kaum muslim dimanapun berada untuk mengulurkan tangan membantu pembangunan Masjid Jamiul Niakmah.

Haji Abu Dawous (paling kiri) dan Imanudin (kemeja putih) di sebuah kedai di Cham Pha [dok.Imanudin]


Silakan klik informasi terlampir, yang berisi “Open Letter” yang ditanda-tangani oleh Phung Tu, Hakim Kota Phan Rang – Thap Cham, Haji Abu Dawous, pimpro pembangunan masjid, dan Hu Ngoc Huynh (Mohamad Ahmad), Imam masjid Jamiul Niakmah.

Apabila anda menginginkan informasi lebih detail mengenai proyek pembangunan masjid itu, silakan mengirim email ke: djausin@yahoo.com


Monday, March 24, 2008

Hidup Bahagia

Apa sih sebenarnya tujuan dari sebuah pernikahan itu? Pertanyaan itu pernah dilontarkan oleh seorang ustad dalam suatu khutbah nikah. Suasana waktu itu tiba-tiba menjadi hening. Beberapa hadirin terlihat saling pandang dengan pasangannya (suami/istri/pacar mereka). Tak satupun yang berbicara dalam kurun beberapa detik sesudah dilontarkannya sebuah pertanyaan, yang mungkin sangat mengagetkan atau bahkan tidak pernah terpikirkan oleh mereka. Sungguh ajaib bukan?

Ya, tentu saja ajaib. Bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu perbuatan (menikah) yang kita tidak tahu (paham) maksud dan tujuannya? Ketika pertanyaan serupa blogger tanyakan kepada kawan-kawan Vietnam yang telah menikah, jawaban mereka beragam. Ada yang mengatakan bahwa mereka ‘menikah’ (saya beri tanda petik dan saya harap anda paham maksudnya) karena tradisi. Maksudnya, orangtua-orangtua mereka juga melakukannya. Ada lagi yang mengatakan bahwa mereka saling mencintai. Ada pula yang mengatakan bahwa itu untuk mendapatkan keturunan. Namun, ada pula, yang berpendapat bahwa daripada berbuat zinah (padahal kawin yang tidak sesuai dengan syariahpun itu samimawon dengan zinah, bukan?).

Doc. pribadi/Menghadiri pernikahan Dzung

Oleh karenanya tidak mengherankan apabila landasannya saja tidak begitu kuat, alias rapuh, bagaimana mungkin dapat membangun mahligai rumahtangga yang kokoh? Barangkali itu juga sering kita saksikan ketika menonton acara-acara infotainment di negeri kita. Rata-rata jawaban dari para artis kita yang sudah, sedang, maupun akan menikah hampir sama dengan jawaban kawan-kawan blogger tadi.

Doc. pribadi/Menghadiri pernikahan Chau, anaknya Chi Phuong

Lalu, kalau bukan seperti jawaban-jawaban di atas yang telah disebutkan tadi atas suatu pernikahan, apa dong? Menurut ustad yang memberikan khutbah nikah tadi, bahwa tujuan dari sebuah pernikahan adalah untuk mendapatkan kebahagiaan dan ridla Allah subhanahu wata’ala. Nah, kebahagian dan ridla Allah subhanahu wata’ala itu tidak akan pernah berakhir dan harus terus diupayakan, hingga akhir hayat memisahkan kita dengan pasangan yang kita cintai.

Berikut ada sedikit cerita tentang rahasia pernikahan Rasulullah Muhammad salallaahu alaihi wassalam yang saya kutip dari Republika online. [rpi]

''Wahai bibi, tolong ceritakan kepadaku bagaimana kalian membina rumah tangga?'' Urwah, kemenakan Aisyah RA melontarkan pertanyaan, saat dia menemani hari-hari Aisyah yang tengah berkabung atas kepergian Rasulullah SAW ke pangkuan Sang Khaliq. Sambil tersenyum getir, Aisyah mencoba mengulang kembali kenangan indah yang paling berkesan saat ia masih menjadi istri baginda Rasul. ''Demi Allah wahai kemenakanku. Sungguh kami pernah melihat bulan sabit berganti di langit sampai tiga kali berturut-turut dalam dua bulan. Selama itu tidak pernah tungku api menyala di seluruh rumah istri Rasulullah SAW.''

Aisyah RA masih tetap tersenyum meski kalimat itu telah terhenti. Mendengarnya, Urwah kaget dan berkata, ''Wahai bibi, bagaimana kalian bisa bertahan hidup bila sedemikian?''

Aisyah lalu menjawab, ''Dengan dua benda hitam; yaitu kurma dan air yang tidak jernih. Namun, terkadang beberapa tetangga Rasulullah SAW dari golongan Anshor yang memiliki domba suka mengirimkan susu kepada kami untuk diminum.'' (Muttafaq Alaihi).

Subhanallah! Itulah kebahagiaan keluarga bumi yang berhati langit. Ketiadaan materi tidak membuat mereka panik, berespons keras atau meminta cerai dari Rasulullah SAW. Benar, episode hidup keluarga ini telah dipertontonkan Allah SWT kepada umat dan kita semua, bahwa pilihan hidup bahagia meski tak berlandaskan materi dapat dijalankan dengan damai.

Kebersahajaan hidup Rasulullah SAW juga tergambar dalam sebuah hadis riwayat Anas RA; Dari Anas Ra, ''Nabi SAW menggadaikan baju besinya dengan sejumlah tepung gandum. Karenanya, aku pun datang kepada Nabi SAW dengan membawa roti gandum dan minyak sayur. Sungguh aku pernah mendengar Beliau bersabda, 'Keluarga Muhammad tidak pernah memiliki satu sha gandum baik pada pagi maupun sore'.'' (HR Bukhari) Dalam sebuah ayat Allah berfirman, ''Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.'' (QS Aththalaaq [65]: 3) Keluarga Muhammad SAW tidak pernah memiliki nafkah yang cukup untuk menghidupi hari-hari mereka. Akan tetapi, kehidupan mereka berjalan mulia dan keharmonisan pun masih tetap mereka miliki. Jika mereka bisa hidup bahagia tanpa keberadaan nafkah, lalu bagaimana dengan kita? (Ust Bobby Herwibowo )

Tuesday, March 18, 2008

Tribute to Prophet Muhammad SAW

Doc. pribadi/Masjidil An Nabawi di kala pagi hari


Menyambut datangnya Maulid Rasulullah Muhammad Salallaahu 'Alaihi Wassalam 1429H, berikut ini saya mengutip dari Kompas Online sebuah tulisan, yang menurut saya, jarang diungkapkan oleh penulispenulis lain kala menyambut maulid nabi. Berikut tulisan dari Bp. KH. A. Mustofa Bisri itu.



Nabi Pembawa Kasih Tuhan

A Mustofa Bisri

Lelaki berwibawa itu membariskan anak-anak pamannya, Abbas, Abdullah, Ubaidillah, dan Kutsair. Ia berkata kepada bocah-bocah itu, ”Ayo, siapa yang lebih dulu mencapaiku, aku beri hadiah.”

Bocah-bocah itu dengan gembira berlarian, berlomba mendapatkan laki-laki yang mereka cintai itu. Ada yang kemudian jatuh di dadanya, ada yang di punggungnya. Lelaki yang tidak lain adalah pemimpin agung Nabi Muhammad SAW itu pun memeluk dan menciumi mereka.
Ketika waktu salat tiba, Rasulullah SAW seperti biasa datang untuk mengimami jamaah. Namun, kali ini, beliau datang dan salat dengan memanggul cucunya, Umamah binti Abil ’Ash, di pundaknya. Pada saat rukuk, Umamah diletakkan dan saat bangkit dari rukuk cucunya itu diangkat lagi.


Kisah Nabi


Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya, ”Lepaskan aku! Siapa ini?”

Orang yang memeluknya tidak melepaskannya, justru berteriak, ”Siapa mau membeli budak saya ini?” Begitu mendengar suaranya, Zahir sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Bahkan, ia merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya. Lalu, katanya riang, ”Lihatlah, ya, Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual.”


”Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi,” sahut lelaki yang memeluk dan ”menawarkan” dirinya seolah budak itu yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW.

Zahir Ibn Haram dari suku Asyja’ adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Di perjalanan, rombongan berhenti untuk beristirahat. Ketika mereka menyiapkan santapan, seseorang mengangkat tangan dan berkata, ”Aku yang menyembelih kambingnya.”

”Aku yang mengulitinya!” kata yang lain. ”Aku yang memasak!” sahut yang lain lagi. ”Kalau begitu, aku yang mencari kayu bakar!” kata pemimpin mereka, Nabi Muhammad SAW. Orang- orang pun serentak berkata, ”Tak usah, ya, Rasulullah, biar kami saja yang bekerja.”

”Aku tahu kalian bisa membereskan pekerjaan ini tanpa aku,” sergah Sang Nabi, ”tetapi aku tidak ingin berbeda dari—istimewa melebihi—kalian. Allah tidak suka melihat hambanya berbeda dari sahabat-sahabatnya.”


Pemimpin Agung


Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sengaja saya nukilkan penggalan-penggalan hadis. Hadis-hadis sahih semacam ini jarang sekali dinukil, baik dalam ceramah keagamaan maupun dalam tulisan. Mungkin orang menganggap hal- hal itu terlalu biasa dan kurang menarik. Padahal, pemeran utama berbagai penggalan kisah kehidupan itu adalah sang pemimpin agung yang nabi yang rasul, utusan Allah.

Pemeran utama berbagai cuplikan kisah itu adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang oleh Michael H Hart, namanya ditempatkan dalam urutan pertama 100 manusia paling berpengaruh di dunia. Pemeran utama cuplikan-cuplikan kisah itu adalah utusan Allah, Muhammad SAW, yang agamanya diikuti oleh mayoritas bangsa ini. Pemimpin yang berhasil membangun masyarakat madani di Madinah. Pemimpin yang mencintai dan dicintai umatnya. Pemimpin yang ditaati karena dicintai dan bukan karena ditakuti.

Di dada dan punggung Pemimpin Agung itulah bocah-bocah, anak-anak pamannya, bergelayutan dengan riang. Di pundak Pemimpin Agung itulah Umamah binti Abil ’Ash, cucunya, digendong dibawa mengimami salat. Pemimpin Agung itulah yang bercanda dan menggoda salah seorang rakyatnya di pasar. Pemimpin Agung itulah yang tidak mau diistimewakan oleh kawan- kawan rombongannya dan meminta bagian pekerjaan juga seperti anggota rombongan yang lain.


Kasih sayang


Dari adegan-adegan sederhana itu, Anda pasti dapat membaca, antara lain, kasih sayang dan kerendah-hatian Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kasih sayang dan kerendah-hatian inilah yang menjadi faktor utama mengapa beliau amat dicintai dan disayangi umatnya. Kasih sayang sudah menjadi bawaan Kanjeng Nabi SAW.

Pernah Kanjeng Nabi SAW mencium cucunya, Hasan Ibn Ali, di hadapan tokoh suku Tamim, Aqra’ Ibn Habis. Aqra’ berkomentar, ”Aku punya sepuluh anak dan tak seorang pun pernah aku cium.” Kanjeng Nabi memandang Aqra” dan bersabda, ”Man laa yarhamu laa yurhamu.” ”Orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”

Kasih sayang bukan saja bawaan Rasulullah SAW dan merupakan sikap hidup beliau, melainkan juga merupakan misi beliau; sesuai dengan yang difirmankan Tuhannya dalam Al Quran (Q. 21: 107). Seperti nabi-nabi sebelumnya, Nabi Muhammad SAW adalah pembawa kasih sayang Tuhan. Maka, mereka yang mengaku pemimpin penerus risalah Nabi, tetapi tidak memiliki kasih sayang, akan kesulitan bahkan juga menyulitkan orang lain.


Semoga selawat dan salam dilimpahkan kepada Kanjeng NabiMuhammad SAW.

A Mustofa Bisri Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?t=.xml.2008.03.19.00065041&channel=2&mn=158&idx=158

Tuesday, February 19, 2008

What else?

Hari Sabtu, 9 Februari 2008. Jam 12.00. Undangan silaturrahim di Perumahan BRI, Cipete, Jakarta Selatan.

Cipete adalah sebuah kawasan di bagian selatan Jakarta yang udaranya cukup enak, paling tidak menurut ukuran saya, yang beberapa saat terakhir ini kedinginan di Hanoi. Maklum suhu udara di Hanoi berkisar di 10 derajad celcius. Lokasi tempat silaturrahim itu sendiri juga sangat enak, karena mudah diakses dari mana saja. Di kawasan itu (Cipete) saat ini, setelah 10 tahun melihatnya lagi, telah berkembang pesat dan sudah hampir mirip-mirip kawasan 'elit' Kemang. Makanya kalo ada warga Jakarta yg ngga tau Cipete, besar kemungkinan orang itu akan disebut sebage kurang gaul. Hehehe ... Soalnya di kawasan itu ada resto steak yg paling top di seantero jagad jabodetabek, yaitu ABUBA. Banyak juga tempat makan yg sangat top di sana, tetapi saya tidak perlu menceritakannya secara khusus soal itu pada saat ini.

Kebetulan lokasi silaturrahim kali ini, Komp. BRI, kediaman Kel. H. Sony tidak jauh dari resto ABUBA itu. Lokasinya sendiri sangat ideal, menurut saya, untuk dijadikan tempat pul-kumpul. Selain rumahnya yg luas, maklum rumah pejabat bank pemerintah yang sedang naik daun kinerjanya, juga memiliki berbagai sarana dan prasarana yang sangat mendukung ie. halaman parkir mobil yang lega, teras yang nyaman (baik di depan maupun belakang), dan perlengkapan main musik yang sangat memadai. Wah ajiib deh … pokoknya!


Sayang pada hari 'H'-nya, beberapa sohib memberikan konfirmasi berhalangan hadir karena berbagai sebab. Sedang beberapa sohib lainnya tidak memberikan konfirmasi kehadiran maupun sekedar merespon undangan yang disampaikan via SMS maupun telp. Sangka baiknya semoga sohib-sohib tadi itu pada sehat wal afiat dan baik-baik saja bersama keluarganya.

Tapi kondisi itu tidak membuat suasana menjadi muram. Misalnya, saya sangat bersyukur bertemu sohib lama, Jeng Mei, setelah hampir 20th-an tidak pernah bertemu lagi. Sayang Jeng Mei, sang aparat pajak yang kelihatan lebih ‘makmur’ dibanding ketika jadul (jaman dulu) itu, berhalangan hadir bersama keluarganya karena anak-anaknya sedang sekolah ketika itu. Keluarga saya datang agak terlambat karena ujian menggambar anak2 pada hari itu sampai lewat dari waktu pertemuan, ie. jam 12 siang. Yang lebih menggembirakan bahwa shohibul bait (tuan rumah) sangat siap dengan segala hal. Mulai dari konsumsi maupun hangatnya sambutan yang diberikan. Tak urung, salah satu indikatornya adalah, kami pada betah berlama-lama di sana dan anak-anak pada 'ogah' pulang. Tak ayal pula, kami yang hadir sempat diberi oleh-oleh ('jatah' dari sohib-sohib yang berhalangan hadir) ketika pamitan pulang. Hehehe ... sorry ya bagi yang ngga sempet hadir.
















Docs. shws, cheers ... ki-ka: ny. Herna, ny. Mei, ny. Rennie, blogger

Perlu dikabarkan bahwa kalo suatu saat kita dapat mewujudkan silaturrahim JB83 maka tidak perlu repot-repot mengundang artis maupun band pengiring. Karena dari potensi-potensi yang ada, ie. anak-anak kita sendiri dapat main band dengan lumayan baik, apalagi kalo yang dinyanyikan itu lagu-lagu tangga teratas dan terkini. Kami sempat nge-jams session membawakan beberapa lagu terkini ie. Munajat Cinta (The Rock), Hanya ingin Kau Tahu (Repvblik), 11 January (Gigi), dll dengan pemain dari kita-kita sendiri ie. Vira (juniornya H. Sony pada keyboard), Randy (junior saya pada drum), H. Sony selaku bassist dan saya sendiri selaku gitaris merangkap vokalis. Hehehe … ‘mantaf’ kali. Tuh lihat saja fotonya. Kalo sudah begini, what else (do I have to ask for more)?

Wah-wah mudah-mudahan kalo ketambahan personil dari junior-junior yang lainnya maka JB83 akan punya grup band yang handal dikemudian hari. Siapa tahu kalo mereka nanti bisa membentuk grup band terkenal seperti Samsons, Nidji, Ungu dll. Silakan mendaftar bagi yang berminat mengembangkan bakat juniror-juniornya. Tempat latihan sudah ada. Peralatan musiknya sudah lengkap. Manajernya pun sudah siap. Hehehe ...


Terakhir, Minggu pagi saya masih ‘ditraktir’ oleh H. Sony buat nge-drive di Hotel Bumi Wiyata, Depok. Selamat berlatih bung Inos. Kapan-kapan kita turun ke lapangan bersama ya? Ajak juga nyonyahnya latihan biar kita bisa punya 'paring' ideal (4 orang: sampeyan dan nyonyah, saya dan nyonyah).

Thanks untuk Kel. H. Sony atas perhatian dan penyambutannya yang ramah dan hangat serta sajian yang mantap selama silaturrahim Sabtu, 9 Feb yang lalu. [rpi]



Docs. shws, jams session with Vira and Randy

Friday, January 25, 2008

Silaturrahim - Anugerah Tambah Rezeki, Tambah Umur

Tambah Rezeki dan Umur


Laporan: Alirman Hamzah

Setiap orang tentu sangat menginginkan rezekinya bertambah dan umurnya diperpanjang. Persoalannya, bagaimana cara tambah umur dan rezeki itu? Kuncinya adalah memperkuat silaturrahim. Sabda Rasulullah SAW, ''Siapa yang suka rezekinya dilapangkan dan usianya dipanjangkan, hendaklah ia menyambung kerabatnya (silaturrahim).'' (HR Bukhari).



Ilustrasi: Silaturrahim di Azzisyiah (Jan-2006)

*************

Silaturrahim berasal dari kata shillat, berarti hubungan atau menyambung, dan al-rahim yang berarti 'mengasihi, menaruh kasihan'.

Dapat juga berarti, peranakan, rahim ibu, tali persaudaraan. Secara keseluruhan pengertiannya adalah usaha menyambung atau menjalin kasih sayang dengan sanak saudara, kerabat, atau sahabat. Dalam sehari-hari, silaturrahim dimaknai sebagai saling mengunjungi antara sanak saudara dan sahabat. Namun, substansinya tentulah tidak sekadar kunjung-mengunjungi, tidak sekadar kontak via udara atau alat komunikasi lainnya. Silaturrahim adalah menumbuhkan persaudaraan yang mendalam, sehingga saling mengetahui, memahami, merasakan, tolong-menolong, berbuat baik, menyayangi, dan mengasihi sanak saudara, kerabat atau sahabatnya.

Pemahaman melapangkan atau menambah rezeki dalam hadis di atas tentulah tidak dipahami lafziah, artinya Tuhan tidak akan menurunkan rezeki berupa uang, emas, atau nikmat lainnya secara fisik. Akan tetapi, konotasinya maknawi atau majazi. Dalam hal ini, sebagai buah dari silaturrahim tersebut, Allah akan menumbuhkan rasa tenteram dan kedamaian batin yang dapat menyebabkan hati terbuka, inspirasi tumbuh, dan motivasi kerja kuat, produktivitas kerja berlipat ganda secara kuantitas dan kualitas, sehingga menghasilkan rezeki yang bertambah-tambah atau berlipat ganda. Sedangkan pengertian bertambah panjang umur dalam hadis tersebut dapat dipahami dalam dua hal.

Pertama, dalam pengertian lafzi, yaitu betul-betul umur orang yang melakukan silaturrahim itu yang dipanjangkan Allah, yaitu umur yang merupakan takdir muqayyad (yang diikat) yang terdapat pada lembaran malaikat yang masih bisa dihapus dan ditetapkan. Hal ini dimungkinkan, karena orang yang rajin melakukan silaturrahim, hatinya senang, jiwanya damai, pikirannya tidak susah dan gelisah sehingga badannya sehat dan umurnya panjang. Jadi, ia memperoleh salah satu sunatullah untuk panjang umur.

Kedua, dalam pengertian maknawi atau majazi, yaitu Allah SWT memberkati orang-orang yang melakukan silaturrahim dengan ketenangan jiwa, kedamaian hati, dan ketenteraman pikiran, seperti yang dijelaskan di atas.


Ilustrasi: Silaturrahim di Elaf Kindah (Jan-2006)

**************


Dengan kondisi rohani yang demikian, ia akan bekerja sungguh-sungguh dan penuh vitalitas. Ia akan terhindar dari pemakaian waktu yang sia-sia, sehingga produk kerjanya berkualitas tinggi dan mendatangkan rezeki yang bertambah. Di sisi lain produktivitas yang tinggi atau kebaikan-kebaikannya dalam memelihara silaturrahim akan lama dikenang dan dicatat orang, sehingga walaupun jasadnya telah hancur dikandung tanah, namanya akan tetap diingat, dan tak mudah pudar ditelan masa. Inilah yang secara majazi dimaksud dengan umur panjang.

Sumber: Republika, 18 Mei 2004

Thursday, January 10, 2008

Silaturrahim dengan Teman ex-Smanda di 'Van de Glank'

Ilustrasi: Silaturrahim Keluarga ceria. Keep smile ya ...!


Silaturrahim adalah anugerah. Betapa tidak, banyak orang yang ingin bertemu (silaturrahim) … entah dengan keluarga, orangtua, teman, atau kenalan dan kerabat lainnya tetapi tidak berkesempatan melakukannya karena satu dan lain hal. Oleh karenanya, begitu kesempatan itu ada, maka saya ingin melakukannya segera. Tidak perlu menunda-nundanya. Apalagi, mencari-cari alasan untuk 'menggagalkan'nya.

Adalah sebuah anugerah terbesar ketika mudik ke Jakarta (28 Desember 2007 – 7 Januari 2008) untuk menemui keluarga, Rennie, Randy dan Rania, Mamah serta adik-adik sekeluarga di Jakarta saya berkesempatan bersilaturrahim kembali (reuni) dengan teman-teman SMA, alumni SMA Negeri 2 Malang (smanda) yang berdomisili di Jadebotabek.

Silaturrahim kali ini digagas oleh Hj. Wiwik dan Erny, yang didukung oleh Hj. Henny. Awalnya, silaturrahim itu merupakan salah satu topic yang hangat di milis yang saya ikuti, yaitu ‘milis smanda’ yang dimoderatori oleh Suharso Hermawan. Seingat saya, topic silaturrahim di Van de Glank (demikian Gisho, panggilan akrab Suharso Hermawan biasa menyebut Pandegalang) sudah sering kami bahas berkali-kali di milis, tetapi baru kali ini dapat ‘kejadian’.

Subhanallah! Sungguh suatu anugerah ketika akhirnya kami dapat bersilaturrahim di Van de Glank, di salah satu vilanya Hj. Henny (saya sebut saja salah satu vila, siapa tahu banyak vila lain yang dimilikinya dan belum saya ketahui) dari 5 – 6 Januari 2008. Thanks to Hj. Henny atas kesediannya menjadi ‘host’ silaturrahim kali ini.

Memancing. Apa saja kegiatan yang dilakukan selama dua hari-semalam di Van de Glank itu? Oh … sungguh indah! Kami ‘check-in’ ketika adzan Sholat Isya berkumandang. Setelah sholat dan santap malam (dinner) kami berkumpul di ruang tengah dari rumah yang asri itu untuk saling memperkenalkan anggota keluarga masing-masing. Kemudian, menyusul ‘performance’ dari masing-masing keluarga. Om Gisho memainkan organ, lalu diikuti oleh Randy, menyusul ‘dance’ oleh Rania, juga nyanyi oleh grup vocal Angie, Dana dan kedua adiknya (wah maaf …. om lupa nama-namanya nih).

Kemudian acara dilanjutkan dengan permainan (game) yang dipandu oleh Randy, sebut saja permainan ‘Jeruk Battle’. Jangan dibayangkan bahwa game itu seperti saling lempar jeruk, tetapi memperebutkan jeruk yang diletakkan di tengah-tengah arena (menggunakan karpet/permadani), dimana ada dua tim yang saling berhadapan (masing-masing anggota tim mengetahui nomor-nomor yang harus selalu mereka ingat dan berdiri di luar batas karpet) untuk adu cepat mengambil jeruk tadi setelah ada aba-aba (berupa panggilan nomor secara acak oleh seorang juri).


Malam itu acara masih diteruskan, meskipun acara 'performance' telah usai. Ada yang hunting durian (duren), main kartu (UNO), karaoke, dan bercerita (mendongeng) oleh Om Gisho. Tak ayal, anak-anak malam itu 'melekan' hingga dini hari jam 3 pagi. Olala!

Paginya, acara lebih seru lagi. Setelah menyantap sup ala suki, beberapa dari kami memancing di kolam ikan, di halaman vila itu. Om Yanuar berhasil mendapatkan ikan yang cukup besar (dibawa pulang buat oleh-oleh nyonyah ngga om?). Lalu, beberapa dari kami asyik membakar ikan. Tapi, itu bukan ikan hasil pancingan kami lho. Itu dibeli Hj. Henny di pasar. Hehehe....


[cerita masih berlanjut …. Kapan2 deh nulisnya, hehehe …]


Ilustrasi: Alamak ... enak nian ikan bakar, sambal pete,
tempe bacem, ayam goreng dan sayur asemnya nih. Subhanallah!

Ilustrasi: Tim 'ikan bakar' in action.
Hm ... bau ikan bakarnya saja mak nyus!

Ilustrasi: Anak-anak ceria 'beraksi' di dekat sawah,
persis di seberang vilanya Tante Hj. Henny, Pandeglang




Wednesday, January 09, 2008

Silaturrahim dengan Teman ex-FEUB JB83

Ilustrasi: Bersekutu menambah mutu. Hehehe ... kayak slogannya Malaysia aja!


Ilustrasi: ''Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menghubungkan tali silaturahim (kekerabatan).'' (HR Bukhari).

Ilustrasi: Keep smile man! Wah ... masih pada ganteng-ganteng nih. Hehehe ... muji-muji sendiri

Silaturrahim adalah anugerah. Betapa tidak, banyak orang yang ingin bertemu (silaturrahim) dengan keluarga, orangtua, teman, atau kenalan dan kerabat lainnya tetapi tidak berkesempatan melakukannya karena satu dan lain hal. Oleh karenanya, begitu kesempatan itu ada, maka saya ingin melakukannya segera. Tidak perlu menunda-nundanya. Apalagi, mencari-cari alasan untuk menggagalkannya.


Adalah sebuah anugerah terbesar ketika mudik ke Malang, kota dimana saya dibesarkan dan menjalani hampir semua masa menimba ilmu dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi, di bulan Juli 2006 berkesempatan bertemu kembali (reuni) dengan teman-teman ex-Kelas Ganjil-B-1983, Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya, Malang. Subhanallah! Lebih dari 17 tahun kami tidak saling bertemu, kemudian kembali dipertemukan. Bukankah itu sebuah anugerah dari Allah SWT? Pertemuan itu digagas oleh Rudy Haryadi, Tutik Aswiyati, Petrus Indarto yang merupakan nama-nama 'aktivis' sekaligus 'seksi sibuk' alumni FEUB-JB83.


Kebetulan saat libur musim panas di Hanoi-Vietnam waktu itu, Juli 2006 kami sekeluarga mudik ke Malang. Kami mengambil rute Jakarta-Surabaya, kemudian langsung menuju kawasan wisata Tretes, Prigen, Pasuruan.


Silaturrahim itu diadakan di Tretes View Hotel, Prigen. Kami menginap semalam disana karena berbagai acara telah disiapkan secara 'marathon' mulai dari sore hari hingga siang keesokan harinya. Dihadiri oleh sekitar dua puluhan alumni, yang kalau dijumlahkan dengan keluarga atau rombongan, maka yang hadir sekitar 70-an orang. Senang dan bahagia, sudah pasti. Apalagi, saat itu kedua ortu (tercinta) saya berkenan menghadirinya. Makanya saya sangat antusias untuk kembali melakukan silaturrahim bersama teman-teman ex-FEUB JB83. Kapan lagi dong?

Silaturrahim dengan Teman ex-Smanda di Malang

Ilustrasi: Silaturrahim di rumah Hj. Wiwik





Ilustrasi: Silaturrahim ... sehabis makan tahu campur dan angsle di depan Telkom, Malang. Tahu campurnya habis berapa piring? Hehehe ...


Silaturrahim adalah anugerah. Betapa tidak, banyak orang yang ingin bertemu (silaturrahim) dengan keluarga, orangtua, teman, atau kenalan dan kerabat lainnya tetapi tidak berkesempatan melakukannya karena satu dan lain hal. Oleh karenanya, begitu kesempatan itu ada, maka saya ingin melakukannya segera. Tidak perlu menunda-nundanya. Apalagi, mencari-cari alasan untuk menggagalkannya.

Adalah sebuah anugerah terbesar ketika mudik ke Malang, kota dimana saya dibesarkan dan menjalani hampir semua masa menimba ilmu dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi, di bulan Agustus 2005 berkesempatan bertemu kembali (reuni) dengan teman-teman SMA. Subhanallah! Lebih dari 22 tahun tidak bertemu, kami kembali dipertemukan. Bukankah itu sebuah anugerah dari Allah SWT?

Pertemuan itu digagas oleh Wiwien, salah satu 'aktivis' sekaligus 'seksi sibuk' alumni SMA Negeri 2 Malang (smanda). Kebetulan saat mudik ke Malang itu saya mendapatkan nomor HP-nya dari salah seorang teman ex-smanda dari 'milis smanda'.

Senang dan bahagia sudah tentu. Malam itu kami bagai melakukan 'napak-tilas' kuliner di Kota Malang dengan mengunjungi beberapa tempat yang menyajikan makanan khas Jawa Timur (baca: Malang), seperti: Tahu Gunting (petis) Kotalama, Tahu Campur, dan Angsle 'Telkom'.

Kurang puas dengan silaturrahim yang begitu singkat saat itu, karena biasanya keluarga kami melakukan mudik saat libur musim panas di Hanoi-Vietnam, maka setahun kemudian (2006) ketika mudik lagi ke Malang kami silaturrahim lagi dengan teman-teman ex-smanda. Kali ini kami melakukannya di salah satu warung makan seorang alumni (Dias). Sayang, ketika itu kami tidak kebagian makanan yang disajikan oleh 'Waroeng-Ku', karena kedatangan kami ke warung itu sudah malam untuk ukuran orang Malang. Tak apalah, silaturrahimnya itu sendiri sudah sebuah anugerah. Toh, saat itu kami bisa menikmati 'nasgor' khas Malang. Nah, makan nasgor (lagi) di Malang (pula gitu lhoh), bukankah suatu anugerah?

Ilustrasi: Silaturrahim di "Waroeng-Ku" (warungnya Dias, lho ... moga tambah laris yah)

Kunjungan Ayah-Bunda ke Vietnam


Ilustrasi: Ayah-Bunda ketika berkunjung ke Hanoi




Adalah suatu anugerah tersendiri yang patut disyukuri, ketika Ayah-Bunda berkenan berkunjung ke Hanoi. Terimakasih Ayah-Bunda atas perkenan mengunjungi ananda di tanah rantau. Meskipun kunjungan itu hanya singkat saja, selama 10 hari, tetapi hari-hari yang telah kita lalui bersama di negeri orang itu sangatlah berkesan.

Lebih berkesan dan serasa sangat istimewa, karena kunjungan Ayah-Bunda kala itu bertepatan dengan saat-saat sebelum hingga sesudah Idul Fitri 1428H. Kenapa begitu istimewa? Karena sudah bertahun-tahun kami jarang melewatkan waktu berhari raya (lebaran) bersama kedua ortu karena kami jarang berkesempatan mudik ketika lebaran. Sungguh itu suatu anugerah yang terindah ketika Ayah-Bunda bersama kami merayakan lebaran 1428H di Kota Hanoi.