Bekerja di luar negeri adalah suatu anugerah, paling tidak itu menurut saya. Betapa tidak, karena tidak banyak orang yang berkesempatan untuk bekerja di luar negeri. Namun banyak juga orang yang ‘terpaksa’ bekerja di luar negeri karena ‘sulit’nya mendapatkan pekerjaan yang layak di negerinya sendiri. Oh, semoga anda yang ‘berjuang’ untuk itu (terpaksa bekerja di luar negeri) senantiasa mendapatkan kesabaran dan ketabahan serta tetap ulet dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada.
Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa suatu saat akan berada di negeri orang untuk mencari rezeki Allah. Namun Allah memang Maha Berkehendak. Tepat ketika negeri kita diterjang ‘badai’ krisis ekonomi, yang saat itu dikenal sebagai ‘krismon’ (bukan Chris John, lho … hehehe …) atau krisis moneter, saya bersama keluarga ber’hijrah’ ke Hanoi, Vietnam. Seolah saya dan keluarga dihindarkan dari krismon di tanah air. Bukankah itu suatu anugerah?
Tentu saja awalnya banyak kendala yang dihadapi. Lingkungan kerja yang baru. Tatacara pergaulan dengan kebiasaan-kebiasaannya yang baru. Cara bekomunikasi atau bahasa yang baru. Dan lain sebagainya. Namun, dengan berjalannya waktu, semuanya seakan menjadi biasa bagi saya. Apalagi saya berada di ‘lingkungan’ itu selama sepuluh tahun lebih. Rasa-rasanya ‘keadaan’ yang tadinya baru itu seperti menjadi bagian dari kehidupan saya.
Kunci dari semua itu, menurut saya adalah kita syukuri saja anugerah yang ada pada kita. Kata sebuah iklan rokok di tivi nasional, “Enjoy aja!”
Banyak hal menjadi pengalaman tak ternilai sebagai ekses dari bekerja di luar negeri. Kebetulan saya bekerja di sebuah perusahaan patungan antara Indonesia, Jepang dan Vietnam, maka interaksi dengan experts dari kedua Negara tidak terelakkan lagi. Demikian juga interaksi dengan para suppliers atau client asing lainnya, seperti dari Philipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Laos, Myanmar, China, Korea, Italia, Jerman, Amerika Serikat, dan lain sebagainya. Selain itu, karena kebetulan saya menjalin hubungan dekat dengan semua staff di KBRI-Hanoi, maka kesempatan berinteraksi dengan para staff/diplomat KBRI-Hanoi maupun tamu-tamu mereka hampir tidak terhindarkan. Mulai tamu dari atlet-atlet nasional berbagai olahraga, pejabat tinggi Negara/TNI/Polri (seperti dirjen, anggota DPR, anggota MPR, Kapolri, menteri, hingga presiden).
Dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat Indonesia di luar negeripun saya selalu mencoba ambil bagian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa hal diantaranya: pengajian, berolah raga bersama (seperti: badminton, tennis, bowling, golf), Indonesian Bazaar, perkumpulan masyarakat (Permai-Hanoi), bermain musik, menjadi Ketua Pemilu Luar Negeri, dan lain sebagainya.
Dengan berkerja di luar negeri, banyak hal yang dapat dilakukan dan diperoleh. Itulah anugerah yang patut saya syukuri.
Bagaimana pengalaman anda bekerja di luar negeri?
Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa suatu saat akan berada di negeri orang untuk mencari rezeki Allah. Namun Allah memang Maha Berkehendak. Tepat ketika negeri kita diterjang ‘badai’ krisis ekonomi, yang saat itu dikenal sebagai ‘krismon’ (bukan Chris John, lho … hehehe …) atau krisis moneter, saya bersama keluarga ber’hijrah’ ke Hanoi, Vietnam. Seolah saya dan keluarga dihindarkan dari krismon di tanah air. Bukankah itu suatu anugerah?
Tentu saja awalnya banyak kendala yang dihadapi. Lingkungan kerja yang baru. Tatacara pergaulan dengan kebiasaan-kebiasaannya yang baru. Cara bekomunikasi atau bahasa yang baru. Dan lain sebagainya. Namun, dengan berjalannya waktu, semuanya seakan menjadi biasa bagi saya. Apalagi saya berada di ‘lingkungan’ itu selama sepuluh tahun lebih. Rasa-rasanya ‘keadaan’ yang tadinya baru itu seperti menjadi bagian dari kehidupan saya.
Kunci dari semua itu, menurut saya adalah kita syukuri saja anugerah yang ada pada kita. Kata sebuah iklan rokok di tivi nasional, “Enjoy aja!”
Banyak hal menjadi pengalaman tak ternilai sebagai ekses dari bekerja di luar negeri. Kebetulan saya bekerja di sebuah perusahaan patungan antara Indonesia, Jepang dan Vietnam, maka interaksi dengan experts dari kedua Negara tidak terelakkan lagi. Demikian juga interaksi dengan para suppliers atau client asing lainnya, seperti dari Philipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Laos, Myanmar, China, Korea, Italia, Jerman, Amerika Serikat, dan lain sebagainya. Selain itu, karena kebetulan saya menjalin hubungan dekat dengan semua staff di KBRI-Hanoi, maka kesempatan berinteraksi dengan para staff/diplomat KBRI-Hanoi maupun tamu-tamu mereka hampir tidak terhindarkan. Mulai tamu dari atlet-atlet nasional berbagai olahraga, pejabat tinggi Negara/TNI/Polri (seperti dirjen, anggota DPR, anggota MPR, Kapolri, menteri, hingga presiden).
Dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat Indonesia di luar negeripun saya selalu mencoba ambil bagian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa hal diantaranya: pengajian, berolah raga bersama (seperti: badminton, tennis, bowling, golf), Indonesian Bazaar, perkumpulan masyarakat (Permai-Hanoi), bermain musik, menjadi Ketua Pemilu Luar Negeri, dan lain sebagainya.
Dengan berkerja di luar negeri, banyak hal yang dapat dilakukan dan diperoleh. Itulah anugerah yang patut saya syukuri.
Bagaimana pengalaman anda bekerja di luar negeri?
Ilustrasi: 'Toast' ... sebuah kebiasaan di Vietnam untuk memulai suatu pekerjaan
Ilustrasi: Bersama partner lokal, ki-ka: Tuan Anh, Huan, Giac, blogger

1 comment:
Keliatannya enak sekali ya bekerja di luar negeri...
Pengen sekali gw kerja di luar jg...
mungkin ada saran gimana cara bt kerja di luar...
thanks before hand
Post a Comment