
Ilustrasi: Teruslah tersenyum 'pelita' hatiku ...
*************
Tersenyum adalah sebuah anugerah yang pantas untuk selalu disyukuri. Betapa tidak? Banyak orang yang ‘kesulitan’ tersenyum karena beberapa alasan, seperti: sedang tidak enak badan, sedang sakit gigi, kurang mood, lagi ngga ada feeling, lagi stress, lagi tanggal tua (bagi yang nunggu saat gajian, hehehe …) dan berbagai alasan lainnya.
Oleh karenanya, tersenyum hanya memungkinkan kalau suasana hati sedang senang, syukur dan sabar. Orang yang sedang dalam suasana senang akan mudah sekali tersenyum. Bahkan, terkadang, sering mengumbar senyum. Misal, ketika tanggal muda (lawan dari tanggal tua tadi). Sedang jatuh cinta. Ketika pasangannya dapat menurunkan berat badan (hehehe … berlebihan ya?). Ketika mendapat hadiah (baik yang diharapkan maupun yang tak terduga). Ketika anaknya mendapatkan apresiasi karena kepintaran di sekolah, piawai memainkan musik instrumen, menang lomba melukis dan banyak hal lainnya.
Orang-orang yang pandai (ahli) bersyukur juga mudah untuk (selalu) tersenyum. Karena baginya, segala sesuatu dirasakannya sebagai nikmat Tuhan yang akan membuatnya bahagia. Oleh karenanya tidak berlebihan kalau ada yang mengatakan bahwa syukur itu indah. [http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=301877&kat_id=14]
''Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.'' (QS Al-Baqarah [2]: 243). Bisa jadi selama ini kita menjalani kehidupan tanpa rasa syukur. Kita merasa semua yang kita dapat sudah selayaknya menjadi hak kita. Karena itu, ketika kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita menjadi kesal. Mungkin juga kecewa, lalu mencela kehidupan.
Kita sering memusatkan perhatian pada keinginan kita, meski sebenarnya apa yang kita inginkan itu tidak kita butuhkan. Perhatian kita tidak berpusat pada apa yang telah menjadi milik kita. Akibatnya, kita masih merasa kurang dengan apa yang kita miliki saat ini. Selain itu, kita cenderung membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita menganggap orang lain lebih beruntung.
Seringkali kita menetapkan syarat yang sangat sulit untuk bisa kita penuhi agar bisa bahagia. Kita akan bahagia kalau mempunyai sesuatu yang dimiliki orang lain. Namun, begitu mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas dan menginginkan yang lebih lagi. Kita tak pernah merasa cukup dengan banyaknya harta yang kita miliki. Bila itu yang terjadi, kita memang belum bersyukur. Nafsu yang bersemayam di dalam hati menjadi berhala, dan justru kita sendiri yang menjadi budaknya. Inilah akar segala ketidakbahagiaan.
Orang yang tidak bersyukur adalah orang yang tidak berterima kasih. Hatinya dikuasai oleh keserakahan sehingga ia tidak peduli, sebanyak apa pun dia memperoleh, dia menjadi semakin serakah. Ketika hanya memperoleh sedikit daripada yang telah ia rencanakan, ia menolak untuk berterima kasih.
Dalam hidup ini, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita sukai. Karena itu, kita mesti belajar menyukai apa pun yang kita dapatkan. Kita belajar untuk mewujudkan perasaan syukur. Bersyukur adalah sikap menerima dengan lapang dada, senang, tulus, pasrah, dan berterima kasih.
Dengan demikian, syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Orang 'kaya' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tapi orang yang dapat menikmati apa pun yang mereka miliki. Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Dengan bersyukur, perasaan damai dan tenteram akan senantiasa meliputi diri kita. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Wallahu a'lam bish-shawab.
Bagaimana dengan sabar? Orang-orang yang sabar akan mudah untuk tersenyum, karena memang memiliki energi untuk itu.
Allah SWT berfirman, ''Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.'' (Al-Kahfi: 28).
Sabar adalah suatu energi dan kekuatan yang harus selalu melekat pada setiap pribadi Muslim. [(KH Didin Hafidhuddin, Republika, 22 Februari 2005]. Dengan kesabaran yang tinggi, seseorang pasti akan selalu tabah dan ulet dalam mengarungi bahtera kehidupan yang sangat fluktuatif, kadangkala mendaki, menurun, terjal, datar, dan kadangkala pula sangat licin. Kadangkala di atas, kadangkala di bawah, kadangkala dalam posisi dan jabatan yang tinggi, dan kadangkala tidak memiliki jabatan sama sekali. Firman Allah dalam QS Ali 'Imran ayat 140, ''... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman ...''
Sabar pada hakikatnya bukanlah mengeluh, menyerah, dan bukan pula pasif tidak melakukan sesuatu kegiatan. Sabar adalah ketangguhan dalam melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat, ketika berhadapan dengan rintangan dan tantangan. Rintangan dan tantangan dijadikannya sebagai suatu peluang dan kesempatan untuk semakin dinamis dalam mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupannya. Dengan demikian, sabar merupakan kunci utama kesuksesan.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali 'Imran ayat 200, ''Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.'' Salah satu kesabaran yang harus selalu dipertahankan, sebagaimana tersebut dalam surat Al-Kahfi 28 tersebut di atas adalah kesabaran ketika berukhuwah dan berjamaah antara sesama orang-orang yang beriman.
Mengingat ketiga hal tadi, senang, syukur dan sabar maka tidaklah heran apabila Nabi Muhammdad bersabda bahwa senyum itu ibadah. Maka dari itu terbarkanlah senyum, tapi jangan ‘senyum-senyum sendiri’. Hehehe …
Oleh karenanya, tersenyum hanya memungkinkan kalau suasana hati sedang senang, syukur dan sabar. Orang yang sedang dalam suasana senang akan mudah sekali tersenyum. Bahkan, terkadang, sering mengumbar senyum. Misal, ketika tanggal muda (lawan dari tanggal tua tadi). Sedang jatuh cinta. Ketika pasangannya dapat menurunkan berat badan (hehehe … berlebihan ya?). Ketika mendapat hadiah (baik yang diharapkan maupun yang tak terduga). Ketika anaknya mendapatkan apresiasi karena kepintaran di sekolah, piawai memainkan musik instrumen, menang lomba melukis dan banyak hal lainnya.
Orang-orang yang pandai (ahli) bersyukur juga mudah untuk (selalu) tersenyum. Karena baginya, segala sesuatu dirasakannya sebagai nikmat Tuhan yang akan membuatnya bahagia. Oleh karenanya tidak berlebihan kalau ada yang mengatakan bahwa syukur itu indah. [http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=301877&kat_id=14]
''Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.'' (QS Al-Baqarah [2]: 243). Bisa jadi selama ini kita menjalani kehidupan tanpa rasa syukur. Kita merasa semua yang kita dapat sudah selayaknya menjadi hak kita. Karena itu, ketika kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita menjadi kesal. Mungkin juga kecewa, lalu mencela kehidupan.
Kita sering memusatkan perhatian pada keinginan kita, meski sebenarnya apa yang kita inginkan itu tidak kita butuhkan. Perhatian kita tidak berpusat pada apa yang telah menjadi milik kita. Akibatnya, kita masih merasa kurang dengan apa yang kita miliki saat ini. Selain itu, kita cenderung membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita menganggap orang lain lebih beruntung.
Seringkali kita menetapkan syarat yang sangat sulit untuk bisa kita penuhi agar bisa bahagia. Kita akan bahagia kalau mempunyai sesuatu yang dimiliki orang lain. Namun, begitu mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas dan menginginkan yang lebih lagi. Kita tak pernah merasa cukup dengan banyaknya harta yang kita miliki. Bila itu yang terjadi, kita memang belum bersyukur. Nafsu yang bersemayam di dalam hati menjadi berhala, dan justru kita sendiri yang menjadi budaknya. Inilah akar segala ketidakbahagiaan.
Orang yang tidak bersyukur adalah orang yang tidak berterima kasih. Hatinya dikuasai oleh keserakahan sehingga ia tidak peduli, sebanyak apa pun dia memperoleh, dia menjadi semakin serakah. Ketika hanya memperoleh sedikit daripada yang telah ia rencanakan, ia menolak untuk berterima kasih.
Dalam hidup ini, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita sukai. Karena itu, kita mesti belajar menyukai apa pun yang kita dapatkan. Kita belajar untuk mewujudkan perasaan syukur. Bersyukur adalah sikap menerima dengan lapang dada, senang, tulus, pasrah, dan berterima kasih.
Dengan demikian, syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Orang 'kaya' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tapi orang yang dapat menikmati apa pun yang mereka miliki. Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Dengan bersyukur, perasaan damai dan tenteram akan senantiasa meliputi diri kita. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Wallahu a'lam bish-shawab.
Bagaimana dengan sabar? Orang-orang yang sabar akan mudah untuk tersenyum, karena memang memiliki energi untuk itu.
Allah SWT berfirman, ''Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.'' (Al-Kahfi: 28).
Sabar adalah suatu energi dan kekuatan yang harus selalu melekat pada setiap pribadi Muslim. [(KH Didin Hafidhuddin, Republika, 22 Februari 2005]. Dengan kesabaran yang tinggi, seseorang pasti akan selalu tabah dan ulet dalam mengarungi bahtera kehidupan yang sangat fluktuatif, kadangkala mendaki, menurun, terjal, datar, dan kadangkala pula sangat licin. Kadangkala di atas, kadangkala di bawah, kadangkala dalam posisi dan jabatan yang tinggi, dan kadangkala tidak memiliki jabatan sama sekali. Firman Allah dalam QS Ali 'Imran ayat 140, ''... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman ...''
Sabar pada hakikatnya bukanlah mengeluh, menyerah, dan bukan pula pasif tidak melakukan sesuatu kegiatan. Sabar adalah ketangguhan dalam melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat, ketika berhadapan dengan rintangan dan tantangan. Rintangan dan tantangan dijadikannya sebagai suatu peluang dan kesempatan untuk semakin dinamis dalam mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupannya. Dengan demikian, sabar merupakan kunci utama kesuksesan.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali 'Imran ayat 200, ''Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.'' Salah satu kesabaran yang harus selalu dipertahankan, sebagaimana tersebut dalam surat Al-Kahfi 28 tersebut di atas adalah kesabaran ketika berukhuwah dan berjamaah antara sesama orang-orang yang beriman.
Mengingat ketiga hal tadi, senang, syukur dan sabar maka tidaklah heran apabila Nabi Muhammdad bersabda bahwa senyum itu ibadah. Maka dari itu terbarkanlah senyum, tapi jangan ‘senyum-senyum sendiri’. Hehehe …
