Tuesday, December 25, 2007

Tersenyum


Ilustrasi: Teruslah tersenyum 'pelita' hatiku ...

*************

Tersenyum adalah sebuah anugerah yang pantas untuk selalu disyukuri. Betapa tidak? Banyak orang yang ‘kesulitan’ tersenyum karena beberapa alasan, seperti: sedang tidak enak badan, sedang sakit gigi, kurang mood, lagi ngga ada feeling, lagi stress, lagi tanggal tua (bagi yang nunggu saat gajian, hehehe …) dan berbagai alasan lainnya.

Oleh karenanya, tersenyum hanya memungkinkan kalau suasana hati sedang senang, syukur dan sabar. Orang yang sedang dalam suasana senang akan mudah sekali tersenyum. Bahkan, terkadang, sering mengumbar senyum. Misal, ketika tanggal muda (lawan dari tanggal tua tadi). Sedang jatuh cinta. Ketika pasangannya dapat menurunkan berat badan (hehehe … berlebihan ya?). Ketika mendapat hadiah (baik yang diharapkan maupun yang tak terduga). Ketika anaknya mendapatkan apresiasi karena kepintaran di sekolah, piawai memainkan musik instrumen, menang lomba melukis dan banyak hal lainnya.

Orang-orang yang pandai (ahli) bersyukur juga mudah untuk (selalu) tersenyum. Karena baginya, segala sesuatu dirasakannya sebagai nikmat Tuhan yang akan membuatnya bahagia. Oleh karenanya tidak berlebihan kalau ada yang mengatakan bahwa syukur itu indah. [http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=301877&kat_id=14]

''Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.'' (QS Al-Baqarah [2]: 243). Bisa jadi selama ini kita menjalani kehidupan tanpa rasa syukur. Kita merasa semua yang kita dapat sudah selayaknya menjadi hak kita. Karena itu, ketika kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita menjadi kesal. Mungkin juga kecewa, lalu mencela kehidupan.

Kita sering memusatkan perhatian pada keinginan kita, meski sebenarnya apa yang kita inginkan itu tidak kita butuhkan. Perhatian kita tidak berpusat pada apa yang telah menjadi milik kita. Akibatnya, kita masih merasa kurang dengan apa yang kita miliki saat ini. Selain itu, kita cenderung membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita menganggap orang lain lebih beruntung.

Seringkali kita menetapkan syarat yang sangat sulit untuk bisa kita penuhi agar bisa bahagia. Kita akan bahagia kalau mempunyai sesuatu yang dimiliki orang lain. Namun, begitu mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas dan menginginkan yang lebih lagi. Kita tak pernah merasa cukup dengan banyaknya harta yang kita miliki. Bila itu yang terjadi, kita memang belum bersyukur. Nafsu yang bersemayam di dalam hati menjadi berhala, dan justru kita sendiri yang menjadi budaknya. Inilah akar segala ketidakbahagiaan.

Orang yang tidak bersyukur adalah orang yang tidak berterima kasih. Hatinya dikuasai oleh keserakahan sehingga ia tidak peduli, sebanyak apa pun dia memperoleh, dia menjadi semakin serakah. Ketika hanya memperoleh sedikit daripada yang telah ia rencanakan, ia menolak untuk berterima kasih.

Dalam hidup ini, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita sukai. Karena itu, kita mesti belajar menyukai apa pun yang kita dapatkan. Kita belajar untuk mewujudkan perasaan syukur. Bersyukur adalah sikap menerima dengan lapang dada, senang, tulus, pasrah, dan berterima kasih.

Dengan demikian, syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Orang 'kaya' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tapi orang yang dapat menikmati apa pun yang mereka miliki. Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Dengan bersyukur, perasaan damai dan tenteram akan senantiasa meliputi diri kita. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Wallahu a'lam bish-shawab.

Bagaimana dengan sabar? Orang-orang yang sabar akan mudah untuk tersenyum, karena memang memiliki energi untuk itu.

Allah SWT berfirman, ''Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.'' (Al-Kahfi: 28).

Sabar adalah suatu energi dan kekuatan yang harus selalu melekat pada setiap pribadi Muslim. [(KH Didin Hafidhuddin, Republika, 22 Februari 2005]. Dengan kesabaran yang tinggi, seseorang pasti akan selalu tabah dan ulet dalam mengarungi bahtera kehidupan yang sangat fluktuatif, kadangkala mendaki, menurun, terjal, datar, dan kadangkala pula sangat licin. Kadangkala di atas, kadangkala di bawah, kadangkala dalam posisi dan jabatan yang tinggi, dan kadangkala tidak memiliki jabatan sama sekali. Firman Allah dalam QS Ali 'Imran ayat 140, ''... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman ...''

Sabar pada hakikatnya bukanlah mengeluh, menyerah, dan bukan pula pasif tidak melakukan sesuatu kegiatan. Sabar adalah ketangguhan dalam melakukan sesuatu yang positif dan bermanfaat, ketika berhadapan dengan rintangan dan tantangan. Rintangan dan tantangan dijadikannya sebagai suatu peluang dan kesempatan untuk semakin dinamis dalam mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupannya. Dengan demikian, sabar merupakan kunci utama kesuksesan.

Allah SWT berfirman dalam QS Ali 'Imran ayat 200, ''Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.'' Salah satu kesabaran yang harus selalu dipertahankan, sebagaimana tersebut dalam surat Al-Kahfi 28 tersebut di atas adalah kesabaran ketika berukhuwah dan berjamaah antara sesama orang-orang yang beriman.

Mengingat ketiga hal tadi, senang, syukur dan sabar maka tidaklah heran apabila Nabi Muhammdad bersabda bahwa senyum itu ibadah. Maka dari itu terbarkanlah senyum, tapi jangan ‘senyum-senyum sendiri’. Hehehe …

Bekerja di Luar Negeri

Bekerja di luar negeri adalah suatu anugerah, paling tidak itu menurut saya. Betapa tidak, karena tidak banyak orang yang berkesempatan untuk bekerja di luar negeri. Namun banyak juga orang yang ‘terpaksa’ bekerja di luar negeri karena ‘sulit’nya mendapatkan pekerjaan yang layak di negerinya sendiri. Oh, semoga anda yang ‘berjuang’ untuk itu (terpaksa bekerja di luar negeri) senantiasa mendapatkan kesabaran dan ketabahan serta tetap ulet dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa suatu saat akan berada di negeri orang untuk mencari rezeki Allah. Namun Allah memang Maha Berkehendak. Tepat ketika negeri kita diterjang ‘badai’ krisis ekonomi, yang saat itu dikenal sebagai ‘krismon’ (bukan Chris John, lho … hehehe …) atau krisis moneter, saya bersama keluarga ber’hijrah’ ke Hanoi, Vietnam. Seolah saya dan keluarga dihindarkan dari krismon di tanah air. Bukankah itu suatu anugerah?

Tentu saja awalnya banyak kendala yang dihadapi. Lingkungan kerja yang baru. Tatacara pergaulan dengan kebiasaan-kebiasaannya yang baru. Cara bekomunikasi atau bahasa yang baru. Dan lain sebagainya. Namun, dengan berjalannya waktu, semuanya seakan menjadi biasa bagi saya. Apalagi saya berada di ‘lingkungan’ itu selama sepuluh tahun lebih. Rasa-rasanya ‘keadaan’ yang tadinya baru itu seperti menjadi bagian dari kehidupan saya.

Kunci dari semua itu, menurut saya adalah kita syukuri saja anugerah yang ada pada kita. Kata sebuah iklan rokok di tivi nasional, “Enjoy aja!”

Banyak hal menjadi pengalaman tak ternilai sebagai ekses dari bekerja di luar negeri. Kebetulan saya bekerja di sebuah perusahaan patungan antara Indonesia, Jepang dan Vietnam, maka interaksi dengan experts dari kedua Negara tidak terelakkan lagi. Demikian juga interaksi dengan para suppliers atau client asing lainnya, seperti dari Philipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Laos, Myanmar, China, Korea, Italia, Jerman, Amerika Serikat, dan lain sebagainya. Selain itu, karena kebetulan saya menjalin hubungan dekat dengan semua staff di KBRI-Hanoi, maka kesempatan berinteraksi dengan para staff/diplomat KBRI-Hanoi maupun tamu-tamu mereka hampir tidak terhindarkan. Mulai tamu dari atlet-atlet nasional berbagai olahraga, pejabat tinggi Negara/TNI/Polri (seperti dirjen, anggota DPR, anggota MPR, Kapolri, menteri, hingga presiden).

Dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat Indonesia di luar negeripun saya selalu mencoba ambil bagian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa hal diantaranya: pengajian, berolah raga bersama (seperti: badminton, tennis, bowling, golf), Indonesian Bazaar, perkumpulan masyarakat (Permai-Hanoi), bermain musik, menjadi Ketua Pemilu Luar Negeri, dan lain sebagainya.

Dengan berkerja di luar negeri, banyak hal yang dapat dilakukan dan diperoleh. Itulah anugerah yang patut saya syukuri.


Bagaimana pengalaman anda bekerja di luar negeri?



Ilustrasi: 'Toast' ... sebuah kebiasaan di Vietnam untuk memulai suatu pekerjaan

Ilustrasi: Bersama partner lokal, ki-ka: Tuan Anh, Huan, Giac, blogger

Monday, December 24, 2007

Berlibur di Bali

Berlibur di Bali adalah salah satu anugerah bagi saya, apalagi kalau itu dilakukan bersama keluarga. Meskipun beberapa kali ke Bali, saya masih ingin ke sana lagi dan ke sana lagi. Saya dan keluarga pernah melakukannya bersama kedua orang tua dan kedua mertua.

Bali selalu asyik buat dikunjungi. Pemandangannya yang indah, budayanya yang eksotik, aneka kerajinan tangan (handicraft) yang unik dan menarik. Belum lagi aneka makanannya yang mengundang selera. Hmm ... pendek kata, kesemuanya merupakan satu paket yang membuat Bali lebih menarik dari Phuket di Thailand, Langkawi di Malaysia, Nha Trang ataupun Hoai An di Vietnam.

Di tahun 1998 saat masih baru-barunya program Balisani, kami ke Bali bersama (kedua orangtua dan kedua mertua). Bermain di pantai Legian bersama, berenang di kolam renang Balisani bersama, makan malam bersama sambil menikmati alunan musik. Subhanallah, betapa indahnya momen itu buat dikenang, apalagi papah telah almarhum (2001). Untung kami pernah melakukannya (berlibur di Bali) bareng papah untuk kedua kalinya di tahun 2000, ketika mengunjungi Nuni (adik ipar) saat masih OJT (on the job training) di salah satu hotel di Denpasar, Bali.

Di pertengahan tahun 2005, saya berkunjung lagi ke Bali. Saat itu membawa rombongan rekan-rekan Vietnam untuk berkunjung ke kantor Cabang Daihatsu di Bali, mengunjungi Pak Andreas Sidharta yang berkantor di perusahaan karoseri (body maker) sambil berlibur di sana. Kemudian di bulan Agustus tahun itu juga, saya kembali ke Bali bersama keluarga. Kami menginap dua malam di Kuta dan hanya semalam di Nusadua. Sengaja kami berpindah-pindah agar mendapatkan perubahan suasana yang berbeda meskipun hanya kunjungan singkat.

Oh Bali ..., kapan-kapan saya ingin kesana lagi. Bagaimana pengalaman anda berlibur di Bali?

Ilustrasi: Bali Dynasty Resorts

Ilustrasi: Randy dan Rania - Bali Dynasty Resorts


Ilustrasi: di Nusadua - Bali